Informasi-Realita.Net,Surabaya – Kini bola panas berada di tangan Kapolda Jatim. Publik menanti langkah nyata apakah buronan kelas kakap yang disebut-sebut bebas berkeliaran di kawasan Wonokusumo akan segera ditangkap, atau kasus ini kembali tenggelam tanpa kepastian.
Masyarakat menilai, lambannya penangkapan terhadap target operasi yang sudah lama dicari dan menunjukkan adanya kelemahan koordinasi di internal kepolisian. Bahkan, tak sedikit yang menduga terdapat “beking” kuat di balik bebasnya sang buron (U).
Salah satu masyarakat Wonokusumo (VA) yang enggan disebut namanya mengungkapkan, keberadaan buronan tersebut bukanlah rahasia lagi. “ Semua warga di sini tahu dia masih berkeliaran hingga sekarang. Kalau polisi bilang belum ada informasi, itu tidak masuk akal. Hampir tiap malam sebelumya ada yang melihat,” ujarnya dengan nada geram (20/09).
Sejumlah sumber internal yang enggan disebutkan namanya bahkan menduga adanya keterlibatan oknum aparat dalam melindungi pergerakan (U) dan (M) . Dugaan tersebut menguat lantaran setiap kali aparat dikabarkan akan melakukan penangkapan, buronan tersebut justru lebih dulu menghilang. “ Seperti ada yang membocorkan operasi. Tidak mungkin kalau itu hanya kebetulan,” ujar sumber tersebut.
Kondisi ini membuat publik kian curiga bahwa jaringan narkoba di Surabaya tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga memiliki “ tembok pelindung” di institusi penegak hukum. Jika benar demikian, kasus ini bukan hanya soal buronan yang lolos, tetapi juga persoalan integritas aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan narkoba.
Sebelumnya, warga sekitar sempat melihat beberapa anggota dari Unit I Subdit III Narkoba Polda Jatim datang ke lokasi. Sekitar lima orang anggota, termasuk seorang polwan, terlihat mendatangi kawasan yang disebut sebagai tempat persembunyian buronan tersebut.
“Benar ada polisi datang, tapi tidak lama kemudian mereka pergi begitu saja. ungkap salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Dikonfirmasi terpisah, AKP Catur, Kanit Unit I Subdit III Narkoba Polda Jatim, membalas via WhatsApp terkait informasi keberadaan buronan (U) di kawasan Wonokusumo. Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan peninjauan di lokasi, namun tidak menemukan target yang dimaksud.
“Ya mas, di tinjut (peninjauan lanjut) memang tidak ada orangnya. Kami sudah cek ke lokasi, tapi target tidak ditemukan tulis AKP Catur dalam pesan singkat WhatsApp yang diterima wartawan, Sabtu (20/09).
Kegagalan demi kegagalan dalam penangkapan (U) jelas bukan sekadar persoalan teknis. Publik melihat adanya pola yang berulang informasi bocor, operasi gagal, buronan tetap bebas. Semua itu mengarah pada satu kesimpulan pahit—ada tembok kuat yang melindungi mereka dari jerat hukum. Jika Polda Jatim tidak segera membongkar “beking” di balik jaringan narkoba ini, maka kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian hanya akan runtuh, dan pemberantasan narkoba tak ubahnya sekadar slogan kosong.
Saat ini, Masyarakat Wonokusumo maupun Surabaya pada umumnya menunggu langkah nyata. Apakah aparat kepolisian berani menembus “tembok pelindung” jaringan narkoba yang sudah lama beroperasi, atau justru membiarkan buronan tetap bebas berkeliaran tanpa kepastian hukum.



