Informasi-realita.net, LUMAJANG – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami letusan sebanyak delapan kali hanya dalam kurun waktu enam jam pada Jumat (14/8) pagi.
Rangkaian letusan beruntun ini memuntahkan kolom abu vulkanik hingga ketinggian maksimal 1,2 kilometer di atas puncak kawah.
Petugas Pengamat Gunung Api (PGA) terus memantau perkembangan visual dan kegempaan dari pos pengamatan secara intensif.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengonfirmasi bahwa gejolak vulkanik pertama mulai terdeteksi sejak dini hari.
Letusan pembuka mencatatkan waktu peristiwa pada pukul 00.24 WIB, meski secara visual semburan awal tersebut tidak teramati akibat tertutup kabut.
Aktivitas vulkanik kemudian berlanjut pada pukul 01.13 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai 700 meter.
Selang beberapa menit, letusan ketiga terjadi pukul 01.24 WIB setinggi 600 meter, disusul gejolak keempat dan kelima pada pukul 04.38 WIB serta 04.57 WIB.
Semburan terbesar terjadi pada pukul 05.15 WIB dengan tinggi kolom abu membumbung hingga 1,2 kilometer dari puncak kawah.
Intensitas kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu sedang yang bergerak condong ke arah selatan.
Tak berselang lama, gunung setinggi 3.676 mdpl ini kembali meletus dua kali berturut-turut pada pukul 05.25 WIB dan 05.40 WIB.
Kedua letusan susulan tersebut masing-masing menyemburkan kolom abu setinggi 800 meter dan 700 meter di atas puncak.
“Saat laporan itu dibuat, letusan Gunung Semeru masih berlangsung,” ujar Liswanto dalam laporan tertulisnya yang diterima di Lumajang, Jumat (14/8).
Melihat dinamika aktivitas yang masih tinggi, otoritas menetapkan status Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga).
Pihaknya mengeluarkan rekomendasi ketat agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer.
Masyarakat juga diminta menjauhi tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 500 meter karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer.
Selain itu, zona bahaya radius lima kilometer dari kawah puncak harus benar-benar steril.
“Masyarakat wajib mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru,” tegas Liswanto mengimbau warga.


