Minggu, April 26, 2026
Google search engine
الرئيسيةCuplikan KotaWarakawuri di Ujung Senja: Antara Pengabdian dan Surat Pengosongan

Warakawuri di Ujung Senja: Antara Pengabdian dan Surat Pengosongan

Informasi-Realita.net,Surabaya — Nama R.Aj. Rochmah AR dahulu melekat pada kisah pengabdian yang tenang namun bermakna, mendampingi almarhum Peltu Rahman, seorang prajurit AURI yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga langit republik. Kini, di usia senja, ia justru dihadapkan pada kenyataan yang tak mudah diterima.

Di kawasan Perumahan AURI, Kelurahan Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo, suasana berubah. Bukan lagi tentang mengenang jasa para prajurit, melainkan kegelisahan menghadapi tenggat waktu. Sebuah surat resmi dari Komandan Lanud Muljono meminta rumah yang telah lama ditempati itu dikosongkan sebelum 24 April. Jika tidak, pengosongan paksa dijadwalkan pada 28 April.

Situasi ini memunculkan ironi yang sulit diabaikan. Rumah-rumah sederhana yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga prajurit kini berada di bawah bayang-bayang penertiban. Bagi para warakawuri, yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdian suami mereka, kondisi ini terasa seperti ujian di penghujung usia.

R.Aj. Rochmah AR, sebagai salah satu warakawuri lanjut usia, menghadapi dilema besar. Setelah puluhan tahun hidup dalam lingkungan militer dan mendampingi pengabdian suaminya, ia kini harus memikirkan ke mana akan melangkah jika tempat tinggal itu benar-benar harus ditinggalkan.

Di sisi lain, kebijakan penertiban aset negara tentu memiliki dasar hukum dan pertimbangan administratif. Namun, publik menilai persoalan ini tidak semata soal aturan, melainkan juga menyangkut aspek kemanusiaan—terutama ketika berhadapan dengan para janda prajurit yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam lingkungan pengabdian.

Peristiwa ini menjadi cerminan dilema antara penegakan aturan dan penghormatan terhadap jasa. Di satu sisi, negara dituntut tertib dalam pengelolaan aset; di sisi lain, ada harapan agar kebijakan tetap mempertimbangkan nilai empati dan keadilan sosial.

Jika pengosongan tetap dilakukan, kisah ini berpotensi menjadi catatan reflektif tentang bagaimana negara memperlakukan mereka yang pernah menjadi bagian dari sejarah pengabdiannya.

Di usia yang tak lagi muda, R.Aj. Rochmah AR tidak menginginkan lebih dari ketenangan menjalani sisa hidup. Sebuah harapan sederhana—tinggal di rumah yang menyimpan kenangan panjang pengabdian.

Pertanyaannya kini bukan sekadar soal aturan, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan dijalankan: apakah mampu menghadirkan keadilan yang tidak hanya tegas, tetapi juga berperasaan.

RELATED ARTICLES

ترك الرد

من فضلك ادخل تعليقك
من فضلك ادخل اسمك هنا

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments

error: Copyright Content !!