Informasi-Realita.Net,Surabaya – Kementerian Koordinator Bidang Pangan resmi memulai Program Kemitraan Pencegahan Pencemaran Plastik Sungai di Indonesia dengan menjadikan Kota Surabaya sebagai lokasi pertama pelaksanaan. Program ini bertujuan menekan kebocoran sampah plastik dari aliran sungai menuju laut melalui pendekatan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan mitra internasional.
Staf Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kemenko Pangan, Ahmad Didin, mengatakan Surabaya dipilih karena dinilai telah memiliki berbagai inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat dijadikan model bagi daerah lain.
“Harapannya Surabaya menjadi kota percontohan di antara lima lokasi target, sehingga daerah lain dapat meniru skema penanganan yang telah berjalan dengan baik,” ujarnya saat peluncuran program, Jumat (5/6).
Program yang turut mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab ini akan difokuskan pada kawasan Kali Tebu dan Kali Mrutu di Surabaya. Setelah itu, implementasi akan diperluas ke Sidoarjo, Solo, Bekasi, dan Bali.
Kegiatan yang dijalankan meliputi pembersihan dan penyaringan sampah di sungai, pemetaan aliran sampah, penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, hingga edukasi mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya.
Pelaksanaan teknis program dipercayakan kepada United Nations Development Programme yang akan mendampingi pemerintah pusat dan daerah dalam menjalankan berbagai kegiatan di wilayah sasaran.
Menurut Ahmad Didin, upaya ini tidak hanya berfokus pada pembersihan sungai, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar sampah tidak lagi dibuang ke saluran air.
Sementara itu, Kepala Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Sri Murwani Nurfadhila Astuti, menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.
“Kami mendorong masyarakat untuk membatasi penggunaan plastik dan memilah sampah dari sumbernya agar memiliki nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sungai,” katanya.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M. Fikser, mengungkapkan bahwa kegiatan penyaringan sampah di Kali Tebu dan Kali Mrutu saat ini mampu mengangkat rata-rata satu ton sampah setiap hari sebelum terbawa ke perairan yang lebih luas.
Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan target Pemerintah Kota Surabaya untuk mengurangi timbulan sampah hingga 40 persen melalui optimalisasi rumah pengelolaan sampah daur ulang dan penguatan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Program ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah sungai yang efektif dan dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia sebagai bagian dari upaya mengurangi pencemaran plastik di lingkungan perairan.

