Informasi-Realita.Net,SURABAYA — Ketua Presidium Gerakan Rakyat Tolak Aplikator Nakal (GERANATS) Jawa Timur sekaligus Ketua Forum Diskusi Transportasi Online Indonesia (FDTOI) Malang Raya, Puji Waluyo, menegaskan bahwa GERANATS Jawa Timur dan FDTOI tidak pernah mengeluarkan ajakan resmi untuk mengikuti aksi penyampaian pendapat pada 27 Agustus 2026.
Penegasan tersebut disampaikan Puji Waluyo menyikapi beredarnya berbagai flyer, poster maupun materi publikasi yang mencantumkan nama GERANATS dan FDTOI sebagai pihak yang mendukung, menginisiasi, mengorganisir maupun menjadi bagian dari aksi tertentu.
Menurut Puji, setiap pernyataan resmi organisasi harus diterbitkan melalui Presidium GERANATS maupun kanal resmi FDTOI. Karena itu, materi yang mencatut nama, logo atau identitas organisasi tanpa persetujuan resmi tidak dapat dianggap sebagai sikap organisasi.
“Kami menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Tetapi kami tegaskan, GERANATS Jawa Timur dan FDTOI tidak mengeluarkan ajakan aksi 27 Agustus 2026. Kalau ada flyer atau poster yang mencantumkan nama organisasi kami tanpa melalui kanal resmi, itu bukan pernyataan resmi kami,” tegas Puji Waluyo.
Puji mengatakan, GERANATS dan FDTOI tetap menghormati setiap bentuk penyampaian pendapat sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara.
Namun, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara aman, tertib, damai dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurutnya, dinamika aksi masyarakat juga tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan yang hingga kini masih dirasakan oleh masyarakat, termasuk para pengemudi transportasi online.
“Ketika masyarakat turun ke jalan menyampaikan kegelisahan, jangan hanya dilihat dari aksinya. Pemerintah juga harus melihat apa yang menyebabkan masyarakat menyampaikan aspirasi tersebut,” ujarnya.
Dalam pernyataan sikap tersebut, GERANATS Jawa Timur dan FDTOI juga tidak melupakan peristiwa yang menimpa almarhum Affan Kurniawan, pengemudi transportasi online yang meninggal dunia setelah terlindas kendaraan aparat kepolisian.
Puji menyebut peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pengemudi transportasi online sekaligus menjadi pengingat bahwa penyampaian aspirasi masyarakat harus mendapatkan ruang yang layak dalam negara demokrasi.
“Peristiwa yang menimpa almarhum Affan Kurniawan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa aspirasi masyarakat harus didengar dan setiap penyampaian pendapat harus dijaga agar berlangsung aman, tertib dan sesuai hukum,” katanya.

Puji menilai berbagai persoalan dalam ekosistem transportasi online masih membutuhkan perhatian serius pemerintah.
GERANATS Jawa Timur dan FDTOI mendorong pemerintah tidak mengambil kebijakan secara parsial dan sementara, melainkan menghadirkan regulasi yang memberikan kepastian serta perlindungan bagi seluruh pihak.
“Ekosistem transportasi online sudah melibatkan jutaan masyarakat. Karena itu, persoalannya tidak bisa terus diselesaikan dengan kebijakan yang sifatnya sementara. Harus ada kepastian hukum dan perlindungan yang jelas,” jelas Puji.
GERANATS Jawa Timur dan FDTOI mendorong pemerintah segera menyelesaikan sejumlah persoalan mendasar dalam ekosistem transportasi online.
Pertama, peninjauan dan peningkatan tarif layanan penumpang roda dua agar lebih mencerminkan biaya operasional dan kelayakan pendapatan pengemudi.
Kedua, kepastian regulasi mengenai layanan makanan dan barang dalam ekosistem transportasi berbasis sistem elektronik.
Ketiga, penegakan ketentuan tarif bersih pada layanan roda empat.
Keempat, pembentukan Undang-Undang Angkutan Berbasis Sistem Elektronik sebagai landasan hukum yang komprehensif bagi pengemudi, pengguna jasa maupun penyelenggara platform.
Puji berharap pemerintah tidak hanya melihat berbagai aksi penyampaian pendapat sebagai persoalan keamanan dan ketertiban.
Menurutnya, aksi masyarakat juga harus dipahami sebagai pesan sosial dan politik yang menunjukkan adanya persoalan yang membutuhkan penyelesaian.
“Kami berharap pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas. Jangan sampai suara masyarakat baru didengar setelah terjadi persoalan. Lebih baik pemerintah duduk bersama, mendengar dan mencari solusi,” tuturnya.
GERANATS Jawa Timur dan FDTOI juga mengimbau seluruh masyarakat yang menyampaikan pendapat agar tidak mudah terprovokasi serta tetap menjaga persaudaraan dan keamanan.
Puji menegaskan, GERANATS dan FDTOI mendukung langkah-langkah konstitusional masyarakat dalam memperjuangkan kepentingannya, dengan tetap mengedepankan kedamaian dan ketertiban.
“Negara yang sehat bukan negara yang anti kritik. Negara yang sehat adalah negara yang mampu mendengar kritik dan menghadirkan keadilan bagi rakyatnya,” pungkas Puji Waluyo.


