Informasi-Realita.Net,Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan tracing dan screening yang dilakukan secara rutin di berbagai wilayah. Hingga Juni 2026, Rabu (10/06/2026), capaian pemeriksaan suspek TBC di Kota Surabaya mencapai 71,54 persen dari target yang ditetapkan dan menjadi bagian dari dukungan terhadap program eliminasi TBC nasional tahun 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa kegiatan tracing dan screening dilakukan secara berkelanjutan di lima area yang menjadi fokus penanganan setiap pekan.
“Kita punya kegiatan untuk tracing dan screening. Di Surabaya ini ada lima area yang setiap minggu itu kita lakukan kegiatan untuk tracing dan screening,” ujar dr. Billy.
Menurutnya, tracing dilakukan terhadap masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, sedangkan screening menyasar masyarakat yang tidak bergejala maupun tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita.
“Jadi tracing ini untuk yang kontak erat. Sedangkan screening (untuk) yang tidak bergejala, dan tidak pernah kontak juga,” katanya.
Data Dinas Kesehatan Surabaya periode Januari hingga Mei 2026 menunjukkan bahwa dari target penemuan 61.624 suspek atau terduga TBC, sebanyak 44.088 orang telah menjalani pemeriksaan. Capaian tersebut setara dengan 71,54 persen dari target yang ditetapkan.
Selain itu, program skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari target 50 persen jumlah penduduk yang harus diskrining. Dari estimasi 11.412 kasus TBC pada tahun 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan, terdiri atas 4.078 kasus TBC sensitif obat dan 113 kasus TBC resistan obat.
Saat ini, sebanyak 4.166 pasien TBC menjalani pengobatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Surabaya. Untuk kasus TBC sensitif obat, sebanyak 3.443 pasien atau 84,43 persen telah memulai terapi. Sementara itu, dari 113 kasus TBC resistan obat yang ditemukan, sebanyak 90 pasien atau 79,65 persen telah menjalani pengobatan.
Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat di Surabaya juga tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 89,36 persen. Adapun angka kematian pasien selama menjalani terapi berada pada kisaran 1,80 persen.
Sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan, Dinas Kesehatan Surabaya telah melaksanakan 2.461 investigasi kontak dan memberikan terapi pencegahan kepada 2.729 orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
dr. Billy mengungkapkan bahwa capaian tersebut menunjukkan perkembangan yang positif. “Nah, sampai bulan Mei kemarin kita sudah lakukan pemeriksaan itu terhadap sekitar 50 persen lebih dari 68.000 estimasi (target penemuan) yang diberikan Kemenkes ke Kota Surabaya,” ungkapnya.
Salah satu kegiatan tracing dan screening dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sawah Pulo, Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir. Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dokter spesialis paru, serta residen paru.
“Di sana kita libatkan FK Unair dari dokter spesialis paru dan residen paru. Ada turun sekitar enam orang dan kepala Irna-nya (Instalasi Rawat Inap),” ujarnya.
Selain melibatkan tenaga medis, kegiatan tersebut juga memanfaatkan teknologi pemeriksaan terbaru yang memungkinkan deteksi TBC menggunakan sampel air liur.
“Ada alat untuk pemeriksaan baru. Kalau selama ini kan kita harus pakai dahak. Nah, kesulitan untuk dapat dahak ini, ternyata ada alat yang bisa membantu kita, cukup saliva atau air liur saja kita bisa mendeteksinya,” jelas dr. Billy.
Ia menambahkan bahwa pengembangan metode tersebut mendapat dukungan tim ahli dari Cina dan Korea. Pemkot Surabaya berharap berbagai langkah yang dilakukan dapat membantu pencapaian target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030 sebagaimana diamanatkan dalam Perpres Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.

