Informasi-realita.net,Surabaya,Anggota DPRD Surabaya kembali memasuki Masa Reses sidang keempat masa persidangan ketiga tahun anggaran 2023.
Para Dewan kembali turun langsung untuk menjaring aspirasi masyarakat apa yang menjadi keluhan masyarakat.
Kegiatan reses tersebut dilaksanakan di Jalan Indragiri 75,Kecamatan Wonokromo pukul 15.00 wib
Reses kali ini berlangsung panas,debat panas antara KSH (Kader Surabaya Hebat),antara Kader satu sama lain saling menyudutkan tugas mereka yang tak adil dan tidak seimbang.
Tugas berat para Kader Surabaya Hehat juga menjadi topik menarik reses tadi sore. Salah satu kader setempat mengungkapkan bahwa 15 poin tugas yang diberikan oleh Dinas kesehatan dirasa ndak mungkin berjalan dengan maksimal karena sulitnya untuk mengakses aplikasi sayang warga.
”Kita ini hanya membantu bukan pegawainya Pemkot. Tapi kerjanya ngalah-ngalahi Pemkot? Gimana? Kalau dibandingkan tenaga Outsorsing, mungkin tugas kader lebih berat, kita menerima gaji sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) tapi tugas kita berat sampai terkadang harus bergadang untuk menyelesaikan tugas kita” keluhnya kepada Dyah Katarina bersama tim.
Semisal, tugas rutin melakukan pemeriksaan ke sekitar 200KK se-wilayah RW setiap Bulannya. “Pemeriksaan kesehatan kepada 200 KK, kurang nya tenaga kadernya, Kadang alatnya nggak ada, berarti pake sistim kira-kira, apakah hasilnya maksimal?” cetusnya.
Belum lagi masalah pelaporannya yang harus menggunakan teknologi tapi kader disuruh usaha sendiri untuk mempunyai HP Pintar dengan ram minimal 6gb,Pemkot tidak mau tau apa yang menjadi beban kita.
“Kita toreh bebepa tahun kemarin, sebelum ada pembentukan KSH,semua juga terlaksana dengan baik,Surabaya memang hebat, tanpa dibayar pun kader sudah bisa berjalan.Tapi kalau bebannya terlalu berat, kita ini masih punya keluarga yang harus diurus,terkadang kita bela belain lembur malam demi sebuah data selesai tepat waktu” katanya melandai.
“Pesan kami kepada Pemkot, untuk pembuatan sistem tolong diserahkan kepada yang pernah dilapangan, jangan orang-orang muda yang hanya bisa teknis, tapi nol pengalaman di lapangan,” tandas kader.
Seringnya menjadi bahan tabrakan warga, RT RW setempat juga mengeluh masalah data penerima bantuan.
“Setiap kali update data, e.. yang keluar itu lagi itu lagi. Jadi malu sama warga, dikira kita tebang pilih terhadap warga ,” kata pak RT.
Usulannya, pendataan atau survey seharusnya dilakukan langsung oleh Dinsos kepada warga. Ini sekaligus mengurangi bantuan tidak tepat sasaran dan pandangan tidak enak warga terhadap pengurus kampung yang terkesan kita pilih kasih,satu lagi bu Dyah KSH yang selalu disalahkan terkait pendataan,KSH selalu di kambing hitamkan,tapi terkadang data yang kita kerjakan tidak dipergunakan sama sekali, celetuk salah satu koordinator KSH RW 012.
Kemudian, warga juga mencermati terkait beberapa pelatihan kerja atau usaha yang dilakukan oleh Pemkot. Warga Sawunggaling banyak yang menganggap hal ini sia-sia belaka, dan hanya menghamburkan uang,dan sebagian warga yang menolak melakukan pelatihan karena alasan tidak ada waktu.
“Kami melihat, dalam mencari peserta aja instruksi dari kelurahan selalu mendadak tanpa memikirkan apa yang terjadi di lapangan, sehingga di lapangan terjadi asal comot dan tidak tepat sasaran. Dan akhirnya dengan terpaksa kader lagi yang disuruh ikut pelatihan,” katanya.
“Lucunya lagi,terkadang pelatihan tersebut tidak sesuai dengan profesi warga sehari-hari jadi gak nyambung lah,celoteh seorang warga yang ada di bangku belakang.
Selain hal-hal diatas, Dyah Katarina selaku anggota Komisi D DPRD Surabaya bidang Kesra juga mendapat banyak keluhan di resesnya saat itu.
Banyak warga Sawunggaling tercatat sebagai warga Gamis tapi karena kita,masih memasuki wilayah Kodam V Brawijaya, maka harus ijin terlebih dahulu untuk memasang sticker merah tersebut, bukan itu saja bu Dyah yang saya keluhkan,ujar warga.
Banyak yang terdaftar gamis tapi malah tidak menerima bantuan apapun saya sudah koordinasikan dengan kelurahan tapi hasilnya tetap sama bu,ujarnya bernada geram.
Terkait semua persoalan diatas, DK sapaan Dyah Katarina menyampaikan tupoksinya sebagai perwakilan rakyat yang tugasnya adalah menyampaikan semua kondisi yang ada di masyarakat kepada Pemerintah.
“Saya senang bila warga berani bicara, karena bagaimanapun kerasnya, ini adalah bentuk turut sertanya masyarakat dalam membangun kota Surabaya,” ujarnya.
Jika warga tidak bersuara Pemkot tidak tau apa yang menjadi keluhan dan permasalahan apa yang terjadi,kita semua harus bekerja sama untuk kesejahteraan masyarakat Kota Surabaya,lanjutnya
Anggota Dewan yang terkenal ramah terhadap warga ini berjanji akan mengawal dan memperjuangkan semua informasi yang telah diterimanya saat reses sore ini.
“Catat nomer saya, apabila ada yang mempersulit pelayanan kepada warga, saya pastikan akan menyentilnya,” tandasnya sembari bergegas mengakhiri reses sore tadi.

Sembari mencairkan suasana yang sempat tegang saat sesi tanya jawab tadi di akhir kegiatan reses tadi sore, berfoto bersama-sama dan membuat video yel yel ceria. (dita)

