Informasi-realita.net, SURABAYA-Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Umat Peduli Generasi memadati Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Minggu pagi 9 Agustus 2026. Dalam aksi bertajuk “Bebaskan Indonesia dari Ancaman dan Kejahatan LGBT” massa menyampaikan enam tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah dan sejumlah institusi negara.
Humas Aliansi Umat Peduli Generasi Muhammad Rizqi Nafis mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap persoalan LGBTQ yang dinilai dapat memengaruhi tatanan keluarga, norma keagamaan, serta ketahanan generasi muda.
“Keutuhan dan masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas moral, mental, dan fisik generasi mudanya,” kata Rizqi.
Dalam aksi tersebut, Aliansi Umat Peduli Generasi menyampaikan enam tuntutan utama.
Pertama, massa mengecam dan menolak segala bentuk perilaku, kampanye, promosi, serta normalisasi LGBTQ di seluruh wilayah Jawa Timur. Mereka menilai hal tersebut bertentangan dengan nilai agama, moral, budaya, dan ketahanan keluarga.
Kedua, massa mendukung implementasi Perpres Nomor 111 Tahun 2025 dan sosialisasi Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014. Mereka juga mendorong segera dirumuskannya Undang-Undang Anti-LGBTQ serta mendesak Pemprov dan DPRD Jawa Timur menerbitkan Perda atau Pergub untuk membentengi masyarakat dari pergaulan bebas dan penyimpangan seksual.
Ketiga, Aliansi Umat Peduli Generasi mendorong Kementerian Agama dan lembaga pendidikan mempercepat penerapan kurikulum pencegahan LGBTQ berbasis nilai agama, moral, dan penguatan karakter. Kurikulum tersebut diusulkan diterapkan di sekolah umum, madrasah, hingga pesantren. dari pergaulan bebas dan penyimpangan seksual.
Ketiga, Aliansi Umat Peduli Generasi mendorong Kementerian Agama dan lembaga pendidikan mempercepat penerapan kurikulum pencegahan LGBTQ berbasis nilai agama, moral, dan penguatan karakter. Kurikulum tersebut diusulkan diterapkan di sekolah umum, madrasah, hingga pesantren.
Keempat, massa mengimbau TNI mengintegrasikan materi mengenai ancaman nonmiliter LGBTQ ke dalam program Pembinaan Teritorial (Binter) dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara. TNI juga didorong turut membantu sosialisasi mengenai isu tersebut kepada masyarakat.
Kelima, Polri didesak mengintensifkan patroli siber untuk menindak pihak yang dinilai menyebarkan konten seksual dan propaganda LGBTQ. Massa juga meminta pengawasan terhadap organisasi masyarakat maupun LSM lokal dan asing yang dianggap membawa agenda tersebut diperketat.
Keenam, Aliansi Umat Peduli Generasi menyerukan seluruh elemen umat Islam, ulama, dan tokoh masyarakat meningkatkan konsolidasi, sosialisasi, serta edukasi secara masif. Mereka juga menyerukan penerapan Islam Kaffah sebagai solusi yang mereka nilai komprehensif untuk menyelamatkan generasi muda dan menjaga moral bangsa.
Rizqi menegaskan, tuntutan tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga pemerintah agar lebih memberikan perhatian terhadap persoalan yang mereka soroti.
“Kami harapkan jadi lebih aware terhadap masalah LGBT ini, dan juga tuntutan kami adalah jangan sampai LGBT ini dibiarkan dan harus dicegah,” pungkasnya.


