Informasi-Realita.Net,MAGETAN – Nasib pahit dan jeritan pilu kini dirasakan para peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan. Di tengah harga pakan ternak yang terus merangkak naik, harga jual telur ayam ras di tingkat peternak justru mengalami penurunan tajam.
Kondisi tersebut membuat ribuan peternak berada dalam tekanan berat. Biaya produksi yang tinggi tidak lagi sebanding dengan harga jual telur di pasaran, sehingga keberlangsungan usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka ikut terancam.
Melihat kondisi tersebut, Polres Magetan bersama Satgas Pangan mengambil langkah cepat dengan menggelar audiensi lintas sektoral untuk mencari solusi atas persoalan anjloknya harga telur sekaligus membahas ketimpangan antara produksi dan penyerapan.
Audiensi digelar di Ruang Eksekutif Polres Magetan dan mempertemukan sejumlah pihak terkait, mulai dari peternak, pedagang, pimpinan DPRD, hingga organisasi perangkat daerah yang membidangi peternakan dan pangan.
Kapolres Magetan, AKBP Dr. Raden Erik Bangun Prakasa, menegaskan bahwa kepolisian hadir untuk memastikan persoalan yang dihadapi peternak tidak dibiarkan berlarut-larut hingga menyebabkan mereka gulung tikar.
Menurutnya, persoalan harga tidak hanya berkaitan dengan mekanisme pasar, tetapi juga harus dilihat dari sisi keseimbangan produksi, distribusi, hingga penyerapan hasil produksi peternak lokal.
Sebagai langkah konkret, Polres Magetan menginstruksikan seluruh jajaran Kapolsek untuk ikut mengawal penyerapan telur hasil produksi peternak lokal.
Khusus kebutuhan pangan untuk program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), seluruh pengelola diminta memprioritaskan pembelian telur dari peternak Magetan.
“Polres Magetan sebagai bagian dari Satgas Pangan memfasilitasi audiensi ini agar seluruh pihak dapat duduk bersama menyampaikan persoalan yang dihadapi. Kami menginstruksikan seluruh Kapolsek agar kebutuhan telur maupun bahan pangan lainnya di SPPG diprioritaskan membeli produk lokal,” tegas AKBP Raden Erik Bangun Prakasa.
Selain itu, kepolisian juga mendukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Magetan yang mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membeli telur dari peternak lokal dengan mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP).
Produksi Telur Magetan Membanjir
Persoalan utama di balik anjloknya harga telur di Magetan turut terungkap dalam audiensi tersebut.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, drh. Nur Haryani, mengungkapkan bahwa daerah tersebut saat ini mengalami oversupply atau kelebihan produksi telur.
Berdasarkan data yang disampaikan, populasi ayam petelur di Magetan mencapai sekitar 2,9 juta ekor yang tersebar pada 1.036 peternak.
Dari populasi tersebut, produksi telur mencapai sekitar 79,2 ton per hari. Sementara kebutuhan atau konsumsi masyarakat Magetan hanya berada di kisaran 30,3 ton per hari.
Artinya, terdapat selisih produksi puluhan ton setiap hari yang harus diserap oleh pasar di luar kebutuhan konsumsi lokal.
Kondisi kelebihan pasokan tersebut menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan besar terhadap harga telur di tingkat peternak.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang telah ikut menyerap produksi telur. Namun, penyerapan yang disebut mencapai sekitar 7 ton per minggu dinilai masih belum mampu mengimbangi besarnya produksi telur Magetan.
Peternak Minta Rantai Distribusi Dibenahi
Dari sisi peternak, persoalan harga bukan sekadar mengenai naik-turunnya harga pasar. Tingginya biaya operasional membuat peternak semakin sulit bertahan ketika harga jual telur berada di titik rendah.
Salah seorang peternak, Parlan, berharap seluruh mata rantai perdagangan telur dapat memiliki komitmen yang lebih adil.
Ia meminta adanya keseragaman harga serta komunikasi yang lebih baik antara peternak, supplier, dan pedagang agar beban tidak hanya ditanggung oleh peternak sebagai produsen.
Peternak berharap pemerintah tidak hanya memberikan solusi jangka pendek berupa penyerapan telur, tetapi juga membangun kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan produksi dan pasar secara berkelanjutan.
Pembatasan Populasi Jadi Opsi Jangka Panjang
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Magetan bersama DPRD Magetan mulai mengkaji sejumlah langkah jangka panjang untuk mengatasi persoalan oversupply.
Salah satu opsi yang dibahas adalah pengendalian populasi ayam petelur serta pengetatan izin pendirian peternakan baru.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dengan daya serap pasar.
Persoalan telur di Magetan kini tidak lagi sebatas persoalan harga komoditas. Di balik anjloknya harga telur, terdapat ribuan peternak yang mempertaruhkan keberlangsungan usaha dan sumber penghidupannya.
Langkah cepat Polres Magetan bersama Satgas Pangan menjadi salah satu upaya untuk menahan tekanan tersebut. Namun, solusi jangka panjang tetap membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, peternak, distributor, pedagang, dan seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok telur.
Jika keseimbangan produksi dan penyerapan tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin krisis harga telur justru berkembang menjadi persoalan ekonomi yang lebih besar bagi para peternak lokal Magetan.


