Informasi-realita.net-Surabaya-Kejuaraan Tarung Derajat Piala Wali Kota Surabaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya berlangsung meriah dan penuh semangat juang. Ajang ini diikuti kurang lebih 100 atlet dari seluruh penjuru Surabaya, serta mendapat tambahan partisipasi dari daerah lain seperti Gresik, Lamongan, dan Sidoarjo.
Menurut Ketua Pelaksana, M. Soleh, kejuaraan ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi merupakan bagian dari proses panjang pembinaan atlet yang berkesinambungan. Tidak hanya mengasah kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga membentuk mental juara, sportivitas, serta disiplin tinggi yang menjadi ciri khas atlet Tarung Derajat.
Sebagai cabang olahraga bela diri asli Indonesia, Tarung Derajat memiliki sejarah panjang yang sarat nilai perjuangan.
Tarung Derajat diciptakan oleh Achmad Dradjat pada era 1970-an di Bandung, berangkat dari pengalaman hidup keras yang kemudian dirumuskan menjadi sistem bela diri dengan kekuatan, kecepatan, ketepatan, dan keberanian sebagai fondasi utama.
Filosofi “Aku Ramah Bukan Berarti Takut, Aku Tunduk Bukan Berarti Takluk” menjadi napas perjuangan para petarung hingga saat ini.
“Ke depan, kami berharap kejuaraan seperti ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi benar-benar menjadi wadah pembinaan yang terstruktur dan berjenjang.
Kami ingin melahirkan atlet-atlet Tarung Derajat yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara mental, disiplin, serta memiliki karakter juang yang tinggi. Dari Surabaya, kami optimistis bisa mencetak atlet yang mampu bersaing di level provinsi, nasional bahkan internasional,” ujar Kompol Soleh.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antar pihak dalam membangun prestasi olahraga. “Kami berharap dukungan dari pemerintah daerah, KONI, pelatih, serta orang tua atlet bisa terus diperkuat.
Pembinaan tidak bisa berjalan sendiri, harus ada kolaborasi yang solid. Dengan sistem latihan yang konsisten, kompetisi yang rutin, serta pembinaan usia dini yang serius, kami yakin Tarung Derajat akan semakin berkembang dan menjadi kebanggaan daerah.”
Lebih lanjut, Kompol Soleh menyampaikan bahwa regenerasi atlet menjadi fokus utama ke depan. “Kami ingin memastikan tidak ada kekosongan generasi. Atlet-atlet muda harus terus didorong untuk tampil, diberi ruang bertanding, dan dibentuk sejak dini. Kejuaraan seperti ini menjadi sarana evaluasi sekaligus pembuktian hasil latihan mereka selama ini.”
Ia pun berharap semangat para atlet tidak berhenti hanya di arena pertandingan. “Kami ingin para atlet membawa nilai-nilai Tarung Derajat dalam kehidupan sehari-hari—menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati, dan memiliki integritas. Karena sejatinya, kemenangan terbesar bukan hanya di atas ring, tetapi bagaimana mereka mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.”
Dengan semangat Tarung Derajat yang menjunjung tinggi keberanian dan kehormatan, Kompol Soleh optimistis bahwa masa depan Tarung Derajat di Surabaya akan semakin cerah, melahirkan generasi petarung yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter kuat dan berdaya saing tinggi.(Dt)



