Informasi-Realita.Net,SURABAYA – Menjelang peringatan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, pembahasan mengenai sejarah Indonesia kembali menjadi perhatian. Momentum tersebut dinilai penting untuk mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z, memahami perjalanan bangsa melalui berbagai sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Peristiwa yang berlangsung pada akhir September hingga awal Oktober 1965 menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Indonesia. Penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 kemudian diikuti perubahan besar dalam kehidupan politik, keamanan, dan sosial Indonesia.
Hingga kini, peristiwa 1965 terus menjadi objek kajian sejarah dari berbagai perspektif. Karena itu, generasi muda dinilai perlu memahami peristiwa tersebut dengan membaca berbagai sumber, melihat konteks zamannya, serta membedakan antara fakta, kesaksian, interpretasi, dan opini.
Hal tersebut disampaikan Kolonel Inf. Karona Susilo, S.I.P., M.Han., perwira menengah TNI Angkatan Darat yang saat ini bertugas sebagai Irutum di Itdam XVII/Cenderawasih.
Sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, Karona memandang peristiwa 1965–1966 sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa yang perlu dipahami oleh setiap generasi.
“Sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, kami memandang peristiwa 1965–1966 bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan uji nyata bagi keberlangsungan NKRI yang wajib dipahami setiap generasi,” ujar Karona melalui pesan yang diterima redaksi (27/9).
Menurut Karona, salah satu pelajaran yang perlu dipetik generasi muda adalah pentingnya menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia berpandangan bahwa konflik politik dan perbedaan ideologi yang terjadi pada masa lalu perlu dipahami dalam konteks sejarahnya. Bagi Karona, pengalaman tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga persaudaraan serta mencegah munculnya konflik yang dapat mengancam persatuan.
Karona juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi membuat generasi muda memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi sejarah.
Namun, derasnya arus informasi juga membawa tantangan tersendiri. Tidak semua informasi yang beredar di media sosial memiliki dasar sumber yang jelas.
Karena itu, ia mengajak Gen Z tidak terburu-buru menerima maupun menyebarkan informasi mengenai peristiwa sejarah.
“Pelajari dari sumber yang sah dan kredibel. Jangan mengambil kebenaran dari media sosial semata,” pesannya.
Karona juga menekankan bahwa mempelajari sejarah tidak harus berujung pada permusuhan terhadap kelompok tertentu.
Menurutnya, sejarah justru harus menjadi sarana pembelajaran agar generasi sekarang dapat memahami konsekuensi dari konflik masa lalu dan mengambil pelajaran untuk kehidupan bangsa ke depan.
Ia mengutip pesan Jenderal A.H. Nasution yang menurutnya relevan untuk direnungkan generasi muda, yakni pentingnya tidak memelihara dendam dan tetap berpegang pada kebenaran.
Pandangan tersebut, lanjut Karona, menjadi pengingat bahwa perbedaan perspektif terhadap sejarah tidak seharusnya membuat masyarakat Indonesia kembali terpecah.
“Sejarah bukan alat dendam, tetapi pelajaran untuk menjaga keutuhan,” tegasnya.
Di era digital, Gen Z menjadi salah satu generasi yang sangat dekat dengan media sosial. Berbagai informasi mengenai sejarah 1965 dapat ditemukan dengan mudah melalui video pendek, unggahan media sosial, hingga berbagai artikel di internet.
Karona mengingatkan agar generasi muda memiliki kemampuan literasi informasi yang baik.
Menurutnya, informasi sejarah perlu diperiksa sumbernya, dibandingkan dengan referensi lain, dan dipahami konteksnya sebelum dijadikan sebuah kesimpulan.
Ia juga mengingatkan generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Waspadai narasi yang memutarbalikkan fakta, membagi-bagi rakyat, atau menabur kebencian, terlebih di era informasi yang tidak terfilter,” katanya.
Karona juga menyampaikan bahwa kecintaan terhadap Indonesia tidak selalu diwujudkan melalui aktivitas yang berkaitan dengan pertahanan secara langsung.
Menurutnya, generasi muda dapat berkontribusi melalui berbagai kegiatan positif, seperti menjaga persatuan di lingkungan sekitar, menghormati perbedaan, menyaring informasi sebelum membagikannya, serta menghasilkan karya dan prestasi.
“Bela negara tidak selalu memegang senjata. Jaga persatuan di lingkungan, saring informasi sebelum dibagikan, dan bangun prestasi untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap momentum peringatan G30S tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk kembali membuka buku sejarah dan memahami perjalanan bangsa.
Terlebih, semakin berjalannya waktu, jumlah orang yang mengalami langsung berbagai peristiwa pada periode 1965 semakin berkurang. Dokumentasi terhadap kesaksian, arsip, dan berbagai penelitian sejarah pun menjadi penting agar generasi berikutnya memiliki bahan untuk mempelajari masa lalu.
Karona mengajak Gen Z untuk menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran, bukan sebagai alasan untuk mempertajam perbedaan.
Ia berharap generasi muda dapat mengambil nilai-nilai yang relevan dari sejarah, terutama mengenai pentingnya persatuan, kedewasaan dalam menghadapi perbedaan, serta tanggung jawab menjaga kehidupan berbangsa.
“Pengorbanan para Pahlawan Revolusi tidak boleh sia-sia. Tugas kalian, generasi penerus, adalah menjaga agar darah yang tumpah tidak terulang dan memastikan Indonesia tetap berdiri tegak: bersatu, berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat,” pungkas Karona.
Peringatan G30S pada akhirnya dapat menjadi momentum untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, melihat sejarah secara lebih kritis dan bertanggung jawab. Bukan hanya mengingat apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran dalam menjaga persatuan Indonesia pada masa kini dan masa mendatang.


